Weaning With Love (3) – The Journey is (Finally) End.

Hai…

*menyeruak dari kumpulan draft di blog*

Setelah beberapa minggu ini off  dari dunia perblogan #halah #apebanget karena sindrom trimester pertama, akhirnya bisa publish draft juga walaupun baru satu. Ehe. Mumpung lagi semangat nulis, mau cerita tentang perjalanan menyapih dengan cinta alias Weaning With Love yang akhirnya SELESAI JUGA!

giphy.gif

Mau berbagi tentang perjalanan panjang Weaning With Love ini..

  • Perjalanan menyapih ini dimulai saat Tanya berumur 20 bulan. Setelah disounding, tahap pertama adalah menyapih saat pergi. Ternyata cuma butuh 3x pergi setelah itu berhasil dan no drama. Detailnya di sini.
  • Proses menyapih yang paling drama, paling lama dan paling menguras energi serta kesabaran itu saat menyapih di waktu siang ke sore. Butuh waktu sekitar 3-4 bulan baru benar-benar berhasil. Kenapa? Ada di sini alasannya.

Proses selanjutnya setelah berhasil menyapih dari siang ke sore adalah membiasakan Tanya tidur malam tanpa nenen terlebih dahulu. Jatah nenen saya berikan saat adzan Maghrib berkumandang sampai sebelum ia tidur. Jadi ia benar-benar dilatih untuk tidur dengan sendirinya. Hal ini berlangsung di umurnya yang sudah 2 tahun, surprisingly, proses ini berjalan cukup singkat. Hanya butuh waktu seminggu dan less drama. Padahal sebelumnya saya pikir ini proses yang akan membutuhkan waktu penyesuaian yang lama, mungkin akan mengalami masa menggendong anak sampai pagi sambil tidur. Ternyata malah nggak mengalaminya (alhamdulillah!).

Setelah Tanya sudah bisa tidur siang dan tidur malam dengan sendirinya, entah kenapa kok saya jadi baper yak?! Padahal awalnya udah keukeuh dan semangat banget pengen nyapih karena merasa lelah ditempelin mulu ama bocah, dan kangen bobok nyenyak semalaman tanpa ditodong nenen. Dasar mamak labil, rasain kau! Hahahaha. Jadi, saya masih kasih jatah beberapa kali di rentang waktu Adzan Maghrib berkumandang sampai mendekati waktu ia tidur (biasanya jam 9 atau jam 10 malem).

Hal itu berlangsung terus bahkan ketika saya dinyatakan positif hamil adiknya Tanya. Saya dibolehkan untuk terus menyusui oleh dr.Bintari yang memeriksa kehamilan saya saat 6weeks dan dr.Diah yang memeriksa kehamilan saya saat 11weeks. Rasanya menyusui saat hamil? Biasa aja, yang nggak enak cuma karena payudaranya sakit banget, mungkin karena pengaruh hormon ya jadi lebih sensitif.

Pada suatu hari, saya menyadari bahwa frekuensi Tanya dalam menyusui sangat singkat. Biasanya bisa 5 – 10 menit, tapi ini nggak sampai 5 menit sudah selesai. Beberapa saat setelah ia selesai menyusu, saya menekan payudara dan ternyata ASI yang keluar tidak lagi deras, melainkan hanya tetesan-tetesan kecil saja. Besoknya, sebelum jatahnya menyusu saya menekan payudara saya lagi. Ternyata sudah tidak keluar ASI sama sekali! Kaget juga, ternyata bisa juga ya ASI saya benar-benar berhenti, tanpa ada proses perah atau menampung kayak yang dialami teman-teman saya.

Pada saat waktu menyusui tiba, seperti biasa ia menghampiri saya meminta jatah. Lalu, saya tunjukkan bahwa ASInya sudah tidak keluar lagi, sambil saya jelaskan kalau nanti ASInya ada lagi tapi buat dedek bayi karena Tanya sudah besar jadi sudah tidak nenen lagi. Reaksinya sih sedih dan kecewa, beberapa kali ia menekan-nekan payudara saya, memastikan kalau tidak ada lagi ASI yang keluar. Bahkan beberapa hari kemudian, ia masih suka ‘minta jatah’, tapi begitu saya bilang ASInya sudah habis, dia sudah bisa menerima dan nggak ada drama sama sekali.

Akhirnya, perjalanan panjang dalam menyapih selesai juga saat umur Tanya 2 tahun 4 bulan dan saat kehamilan kedua saya berumur 15 weeks. Rasanya lega dan senang bisa menunaikan kewajiban memberi ASI tapi di satu sisi (sedikit) merindukan bonding time saat menyusui Tanya. Hehe. Ternyata bisa juga melaluinya tanpa mengeluarkan jurus terakhir yaitu oles macem-macem di puting.

gifimage.net

Melalui proses ini, saya berharap ibu-ibu yang sedang menyapih bisa tetap semangat dan sabar ya. Setiap orang berbeda cara dan durasi waktunya dalam menyapih, so create and enjoy your own journey of weaning with love ya buk! Mau diobrolin aja, mau menunggu sampai anak self-weaning atau mau diolesi macem-macem, cuma Ibu yang tau cara mana yang terbaik untuk dipraktekkan bersama anaknya. ^^

Weaning with love is not only about the result but also the process. @diniisme

Comments

  1. Dzulkhulaifah

    Aku ingeet waktu kecil disapih dengan metode oles-oles. Dan itu jadi traumatik loh mbak, soalnya aku selalu inget peristiwa itu. That’s why anakku gak pake metode itu waktu disapih, alhmdulillah. Btw selamat ya Tanya mau jadi kakak 🙂

    1. @diniisme

      Aku juga pake metode pahit gitu waktu disapih sama mamaku, tapi pengen coba pake cara diomongin aja soalnya banyak yg berhasil juga. Alhamdulillah ya mbak akhirnya. Terima kasih ucapannya😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *