Kuliah Sambil Kerja, Why Not?

Beberapa waktu lalu, saya dan suami terlibat pillow talk yang cukup berat, tentang bagaimana kami ingin anak kami tidak hanya memiliki sarana pendidikan yang bagus dan jenjang pendidikan yang tinggi tapi juga dapat teredukasi dengan baik. Karena..

“Gak semua yang berpendidikan tinggi dan bagus dapat teredukasi dengan baik, terlebih perihal attitude dan manners-nya” ~ @diniisme

Well, in real life, we met those people with high/great education, going abroad, or get a scholarship but unfortunately, they also have bad manners and bad attitude. Berurusan dengan mereka ini sungguhlah menguras emosi, ada yang pinter tapi nggak bisa kerja sama tim, ada juga yang pinter tapi sombong dan yang paling parah sih ngerasa paling pinter sampai nggak bisa terima saran dan kritik dari orang lain. Gimana coba?

Ya tapi karena pernah ketemu orang-orang macem begitu jadinya nggak pengen anak kita jadi orang yang kayak gitu. Hahaha. Kita juga jadi inget zaman kita kuliah dulu. Apa yang kami ingin terapkan dan apa yang nggak. Salah satu hal yang ingin kami terapkan adalah kuliah sambil bekerja.

Berdasarkan pengalaman saya dulu, kuliah sambil bekerja ada plus dan minusnya tapi masih banyakan plusnya sih.

Plusnya kuliah sambil kerja itu..

+ Salah Satu Cara Belajar Time Management dan Multitasking

Di saat kerjaan lagi banyak, eh dosen ngasih tugas kuliah juga. Saya pernah lagi sibuk-sibuknya di kantor nyiapin suatu event sambil ngerjain skripsi juga. Itu rasanya kepengen punya kemampuan membelah diri kayak amoeba. Awalnya sempet kewalahan tapi akhirnya bisa juga terbiasa tanpa harus membelah diri kayak amoeba. Hehe.

 

healthenterpreneur.com

 

+ Bisa Membiayai Kebutuhan Perkuliahan Tanpa Minta Orang Tua

Enaknya udah punya gaji sendiri jadi nggak perlu minta orang tua deh buat segala keperluan perkuliahan. Dari mulai biaya semester, biaya bikin tugas, skripsi dan wisuda. Karena semua ditanggung sendiri, mau ijin nggak masuk atau bolos kuliah aja mikir-mikir lagi. Hahaha.

 

mrcm.gif

 

+ Memperluas Networking

Saya mengambil kelas karyawan pada saat kuliah sambil bekerja. Alasannya ya supaya jadwal kuliahnya setelah jam kerja saya selesai. Awalnya saya pikir kelas karyawan ini bakal nggak asyik. Ternyata saya salah besar! Saya dapat kelas karyawan yang asyik banget orang-orangnya dan walaupun ada yang udah pada senior tapi nggak pada sombong dan nyambung kalau diajak ngobrol. Malah kalau ada lowongan di kantor mereka pada berbaik hati menginformasikan ke kita. Sedih banget waktu harus lulus duluan dari kelas ini karena saya ambil percepatan kelas. 🙁

+ Teori yang Diberikan Langsung Diaplikasikan Ke Pekerjaan

Namanya juga udah kerja, istilahnya sih praktek duluan daripada mendalami teori. Nah, ketika kita dapat teori-teori dari dosen jadi bisa langsung nyambung dan menghubungkan sama situasi yang ada di kantor, kenyataannya sehari-harinya seperti apa. Dosennya pun seneng ngajarin kita karena udah langsung nyambung sama materi yang diajarkan, jadi sistem pengajarannya lebih banyak diskusi dan presentasi.

+ Nggak Pusing Cari Perusahaan Untuk Studi Kasus Skripsi dan Magang

Kalau mahasiswa lain perlu surat pengantar dan menunggu keputusan dulu dari kantor yang dituju untuk magang dan pengambilan data untuk skripsi, kami yang karyawan ini tinggal ngobrol sama orang dari divisi tujuan yang akan diambil datanya di kantor. Begitu sudah disetujui, tinggal mengirimkan surat pengantar dari kampus. Nggak perlu harap-harap cemas nunggu kepastian deh. :’)

+ Bisa Nebeng Internet dan Print Gratis

Namanya belum sarjana, gaji masi sesuai sama pendidikan terakhir, tetap aja banyak yang harus dihemat. Salah satunya dengan cara ini, numpang ngerjain tugas dan print di luar jam kantor. Bisa pas weekend atau weekdays tapi pas lagi nggak ada jadwal kuliah. Terima kasih banyak untuk kantor saya terdahulu yang begitu banyak jasanya dalam membantu saya meraih gelar sarjana. :’)

 

tenor.com

 

Nah, seperti yang udah saya bilang di atas, selain ada plusnya, ada juga beberapa minusnya dari kuliah sambil kerja ini, di antaranya:

– Capek

Menjalani lebih dari satu aktivitas tentunya membutuhkan fisik yang kuat dan stamina yang sehat. Beberapa bulan pertama penyesuaian, saya rentan sakit. Ya sakit radang usus lah, radang tenggorokan, bahkan batuk pilek yang lama sembuhnya. Jadi, pola istirahat, pola makan dan olahraganya harus teratur tuh. Ada yang nggak teratur salah satu aja, udah deh tumbang.

 

mashable.com

 

– Waktu Me-Time Berkurang

Ya mau nggak mau, ada yang harus dikorbankan atau dijadikan urutan terakhir dalam prioritas kita selagi kuliah sambil kerja, apalagi kalau bukan waktu buat diri sendiri. Sebelum kuliah sambil kerja, biasanya pulang kerja bisa lah nongkrong-nongkrong lucu sama temen-temen, nonton film di bioskop atau pacaran (waktu itu sih lagi nggak jomblo :p). Semenjak kuliah, pulang kerja pasti langsung ke kampus atau kalau lagi nggak ada kuliah ya ngerjain tugas. Musti tahan diri buat nggak manyun pas liat temen-temen kita yang nongkrong saling tag di Facebook, tahan diri buat nggak nonton premier film kesukaan di bioskop dan bersabar-sabar ngadepin (mantan) pacar yang protes tentang berkurangnya waktu kita buat dia, sampai beberapa kali di ambang putus (ya walau akhirnya putus juga sih dan nikahnya sama orang laen #eaaak #curhatdongMah, hahaha).

 

tenor.com

 

– Celetukan Nggak Enak

Beberapa kali ada celetukan nggak enak yang mampir ke saya seperti:

“Eh kok jam segini udah pulang sih?” yang datangnya dari karyawan lain, yang saya jawab sambil memasang senyum paling manis walau hati dongkol:

“Lah kan emang udah jam pulang, lagian kita sih kerjanya efektif makanya selesainya tepat waktu deh.” MAMAM!

atau celetukan dari mahasiswa reguler..

“Oh kelas karyawan ya? Enak dong ya dapat nilainya gampang kan bayarnya mahal?”

Yang saya jawab dengan ngasal: “Gapapa mahal, kan bayar sendiri, nggak minta orang tua.”

Masih banyak yang mengira kelas karyawan diperlakukan special, eh emang udah sewajarnya kan? Toh kita bukan mahasiswa biasa #azegh #songong. Padahal sih sama aja kok, kita antri juga pas registrasi ulang, bikin tugas juga, ikut ujian juga, ikut bimbingan dan bikin skripsi juga. What’s so special about it then?

Ya udahlah mungkin yang nyeletuk kurang piknik, kurang mamam enak, kurang jalan-jalan, atau kurang kasih sayang. Jadi kalau mood lagi enak sih tinggal cuekin aja nggak usah dibales.

 

journal.ie

 

Saya sih berharap, semoga nanti anak saya mau juga untuk kuliah sambil bekerja. Pekerjaannya bebas, nggak harus jadi karyawan kantoran seperti saya dulu. Dia bisa jadi freelancer, part-timer atau punya usaha sendiri malah lebih bagus. Yang penting dia bisa enjoy dan bertanggung jawab dalam menjalani pilihannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *