Bumi Ambu, Jatuh Cinta Saat Pertama Bertemu.

Awalnya…

Sebelumnya sih cuma lihat dari Instagram dan hasil googling tentang Bumi Ambu. Menarik juga, tapi jujur masih takut untuk bersalin tanpa intervensi medis ditambah lagi suami nggak merestui, katanya, “Nanti gimana kalau ada apa-apa lagi kayak sebelumnya?”.

Saya pun mengiyakan karena memang nggak punya pengetahuan apapun untuk beradu argumen, info yang saya dapat tentang Bumi Ambu hanya sebatas dari social media, belum ada teman dekat atau kenalan yang punya pengalaman melahirkan di sana. Dari situ saya sadar, bukan saya saja yang punya ‘luka’ karena persalinan sebelumnya, tapi suami juga. Saya hargai keputusannya dan tetap memilih untuk lahir di rumah sakit yang ada di dekat rumah seperti keputusan sebelumnya.

Saya sadar bahwa saya tidak dapat membiarkan ‘luka’ dari persalinan sebelumnya menghantui terus, apalagi due date semakin dekat. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut kelas hypnobirth, yang pada persalinan sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk ikut, udah keburu skeptis duluan. Tapi, akhirnya terpikir untuk mencoba, ngaruh atau nggak, kepake atau nggak pas persalinan nanti ya nggak apa-apa, paling nggak ada usaha untuk nggak parno lagi.

Ketika saya tanya sana-sini soal kelas Hypnobirth, muncul lagi nama si Bumi Ambu ini sebagai salah satu yang direkomendasikan oleh teman saya. Akhirnya saya hubungi Bumi Ambu untuk tanya kelas dan biayanya. Kelas hypnobirth ini WAJIB diikuti oleh pasangan, kelas diadakan secara private dan cukup 1 kali datang saja, biayanya Rp.600.000,- saja. Kaget juga karena survey di beberapa tempat (Bandung dan Jakarta), di Bumi Ambu ini yang biayanya paling murah. 

 

Pertemuan Pertama, Langsung Jatuh Cinta!

Tidak susah menemukan Bumi Ambu, tempatnya di ruko komplek Adipura sebelah kantor Bank BTN. Butuh waktu 5 menit saja dari rumah saya ke sana, kalau macet sih bisa 10-15 menit. Saya disambut oleh teteh cantik bernama Rista. Mengisi formulir biodata, lalu formulir pengantar hypnobirth yang berisi pertanyaan tentang tempat favorit, hal yang disukai, hal yang tidak disukai dan sejumlah pertanyaan lainnya. Setelah cek tensi dan ukur berat badan, masuklah saya ke sebuah kamar dengan nuansa pink. Di sana saya berkenalan dengan Teh Okke yang kemudian membimbing hypnobirth. Awalnya Teh Okke bilang, “Teteh susah percaya sama orang ya?” #DHEG #KOKBENER

Setelah hypnobirth usai, saya pikir kita bakalan langsung pulang, tapi malah lanjut periksa kehamilan, curhat tentang persalinan sebelumnya dan nanya ini-itu sama Teh Okke. Teh Okke pun berbaik hati dan bersabar menjawab pertanyaan kami dengan panjang lebar. Ini (kurang lebih) rangkumannya..

 

Q: Kalau mau lahiran di Bumi Ambu, apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan?

A: Ada ‘PR’ dari Bumi Ambu yang harus dilaksanakan secara rutin oleh ibu hamil. Kemudian menyiapkan Birth Plan yang nanti diberikan pada saat check up atau check in. Check upnya kapan aja? Sebetulnya cukup 2 kali, pada week 30 dan week 38, tapi jika mau lebih dari itu dipersilahkan.

Bumi Ambu
PR dari Bumi Ambu.

 

Q: Dulu kan saya punya pengalaman ketuban pecah duluan di pembukaan 3 dan belum boleh mengejan, sementara reflek badan pengen mengejan, apa yang harus dilakukan kalau kondisi itu terjadi (lagi)?

A: Dicek dulu apakah cairan ketuban masih bening atau sudah keruh (berwarna hijau). Kalau pembukaan belum lengkap tapi rasa mengejan sudah ada, kuncinya di nafas sama tenang, ini juga berlaku saat kontraksi datang. Suami bisa bantu juga untuk melakukan pijat kontraksi. (Teh Okke lalu menunjukkan titik pijat kontraksi, dua jari dari tulang telapak kaki).

 

Q: Kondisi apa aja yang bikin kita nggak bisa lahiran di Bumi Ambu?

A: Kondisi yang mengarah ke gawat misal detak jantung ibu dan atau bayi tidak stabil, adanya pendarahan, dan ketuban pecah duluan. Untuk kasus ketuban pecah duluan dan cairannya bening, Bumi Ambu akan observasi dulu selama 6 jam, kalau tidak ada progress pembukaan maka segera kami rujuk. Kemudian jika ada kondisi yang bukan kewenangan kami untuk menangani seperti lahiran normal setelah caesar (VBAC) hanya bisa kami bantu edukasinya dan ketuban pecah duluan yang ternyata cairan ketubannya kehijauan. Bayi yang berada di cairan ketuban yang sudah keruh memerlukan antibiotik yang spektrumnya luas, yang pemberiannya merupakan kewenangan rumah sakit. Nanti kalau di rumah sakit tetap mau lahiran sama bidan juga tetap bisa. Sebagian besar kondisi dapat dideteksi di minggu ke 38, kalaupun ada kondisi gawat pada hari H saat bersalin di sini, kami menyediakan oksigen dan infus selagi dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat. Tapi kalau kondisinya nggak darurat, pasien bisa tetap ke rumah sakit rujukan sesuai kemauan pasien walaupun jauh dari Bumi Ambu.

 

Q: Kapan harus check-in ke Bumi Ambu?

A: Kalau rumahnya deket kayak Teteh sih check-in pas kontraksinya sudah teratur tiap 5 menit sekali aja. Tapi misal kontraksi udah kerasa nih teratur dan dihitung tiap udah 10 menit sekali, mau datang ke sini untuk diperiksa juga nggak apa-apa. Senyamannya aja. Terus gimana kalau belum kontraksi tapi ada cairan yang keluar dari jalan lahir? Harus ke sini ya, nanti dicek apakah itu keputihan, ketuban atau sperma yang tertinggal ketika induksi alami. Bisa juga loh kayak gitu #barutau. Kalau ternyata yang keluar flek atau darah, segera ke sini ya untuk diperiksa.

 

Q: Ada rekomendasi rumah sakit untuk bersalin nggak, Teh? Saya selama ini periksa di Humana Prima sama dokter Annisa, SpOg.

A: Wah kalau di Humana Prima belum pernah rujuk pasien ke sana, tapi dokter Annisa setahuku sangat informatif ya. Paling bisa kasih insight tentang Al-Islam sama Harapan Bunda. Kalau di Al-Islam sih tenaga kesehatannya encourage kalau ibu hamil yang dalam keadaan sehat ketika kontraksi disuruh banyak bergerak. Coba Teteh hospital tour aja dulu, tanya-tanya gimana ruangan bersalinnya, apa aja yang boleh dibawa ke ruang bersalinnya supaya Teteh tetap bisa relaks dan bergerak ketika kontraksi datang. Misal bawa aromaterapi atau birthing-ball dibolehkan atau nggak.

Kami sampai di Bumi Ambu jam 5 sore, tapi baru pulang dari sana jam 8 malam saking asiknya curhat. Aselik, saya banyak banget dapat pengetahuan seputar menghadapi persalinan. Jadinya kayak newbie, yang baru hamil pertama kali, padahal ini kehamilan kedua. Ketauan banget kalau kehamilan pertama clueless banget, huhuhu, seandainya aja tahu Bumi Ambu dari dulu…

 

Hospital Tour Dimulai…

Seminggu setelah ke Bumi Ambu, saya dan Kiki hospital tour ke RS Al-Islam dan RSIA Humana Prima. Kalau di RSIA Humana Prima kebetulan bertepatan dengan jadwal periksa, jadi sekalian keliling ke kamar rawat inap untuk bersalin terus lanjut nanya-nanya di bagian informasi jadi baru tahu di RSIA Humana Prima nggak ada NICU, kalau ada kasus bayi dalam kondisi darurat akan dirujuk ke rumah sakit lain.

Tarif Persalinan di RSIA Humana Prima 2018
Tarif Persalinan di RSIA Humana Prima tahun 2018

Dari  RSIA Humana Prima, lanjut ke RS Al-Islam. Udah lama banget nggak ke situ, terakhir sih waktu jagain adik dirawat karena DBD (which is kira-kira 1 dasawarsa lalu). RS Al-Islam jadi tambah luas, saya udah nggak ngenalin dan sempet bingung masuknya dari mana karena kita parkir di bagian belakang rumah sakit. Waktu masuk ke dalam langsung merinding, bukan karena ada apa-apanya ya, tapi emang dari dulu nggak pernah suka sama suasana rumah sakit yang rumah sakit banget. #halah #ribetbahasalo #bingungjugajelasinnya. Terus dulu kok mau lahiran di rumah sakit? Karena RSB Asih adalah rumah sakit yang homey. Lanjut nanya ini-itu dari soal biaya sampai fasilitas di bagian informasi, suami menyarankan agar lahirannya di RS Al-Islam aja karena fasilitasnya lengkap ada NICU juga, jadi kalau ada apa-apa (naudzubillah) nggak usah ribet lagi dirujuk sana-sini. Saya membenarkan sih dan setuju tapi entah kenapa rasanya nggak sreg aja untuk lahiran di sana.

Tarif Persalinan SC di RS Al-Islam 2018

 

Tarif Persalinan Pervaginam/Spontan di RS Al-Islam 2018

 

Bumi Ambu, Pada Akhirnya…

Suami seolah menangkap ke’nggak sreg’an saya, dia lalu bilang, “Sekarang aku serahin ke kamu aja, kan kamu yang mau lahiran. Kamu harus ngerasa nyaman sama tempatnya. Aku mah kan nemenin doang ntar. Apa mau di Bumi Ambu aja? Kalau mau di sana juga nggak apa-apa.”

Gantian saya yang kaget. Sebelumnya, dia nggak setuju tapi sekarang malah bilang gitu. “Eh beneran nggak apa-apa nih? Bukannya kamu nggak setuju? Aku sebenernya udah sreg sama Bumi Ambu pas kemarenan itu kita ke sana. Pengen banget lahiran di sana.”

“Nah ya udah kalau kamu ngerasanya gitu, nggak apa-apa. Ya aku awalnya emang nggak setuju, tapi setelah ke sana, lihat tempatnya dan ngobrol  banyak sama Teh Okkenya, aku juga jadi sreg sama Bumi Ambu.”

Huwaaa…

Rasanya seneng banget waktu suami akhirnya setuju dan sreg juga sama Bumi Ambu. Akhirnya di minggu ke-38, kami memutuskan untuk melahirkan anak kedua di Bumi Ambu dan menjadikan RS Al-Islam sebagai RS rujukan kalau kami nggak berjodoh di Bumi Ambu. Semenjak itu, saya terus-terusan berdoa dan ngomong sama si bayik dalam perut, “Nak, kita ketemu di Bumi Ambu aja ya, jangan di rumah sakit. Kita sehat-sehat ya supaya bisa lahiran di Bumi Ambu aja.”

Buat para calon ibu yang tinggal di Bandung, berencana lahiran di mana nih? Share ya alasan memilih tempat tersebut untuk bersalin nanti.

Tapi.. Di mana pun itu, semoga sudah menemukan tempat yang sesuai ya dan berjodoh dengan tempat yang diinginkan. ^^

Comments

    1. diniisme Post
      Author
      diniisme

      Sama-sama, senang bisa membantu. Bumi Ambu tempat bersalin sekaligus praktik bidan, tidak ada dokter spog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *