Persalinan di Bumi Ambu, Seru!

Hai.. saya kembali lagi! Well, ternyata adaptasi waktu punya anak 2 itu nggak beres-beres ya! Setelah berhasil curi-curi waktu, saya akan melanjutkan cerita tentang persalinan saya di Bumi Ambu ya. Siapa yang udah nungguin? *duileh, siape lo Din?* 

So now, sit down and relax, because it’s gonna be a long story…

H-4 Menuju Persalinan

Usia kandungan sudah jalan 40 minggu, beberapa hari lagi menuju 41 minggu. Hati sudah gundah gulana menanti kehadiran anak kedua. Kok nggak muncul sih tanda-tandanya? Apa dia tahu ya kalau namanya belum jadi?

H-3 Menuju Persalinan

Akhirnya, nama anak kedua kami jadi juga setelah melalui perdebatan dan pencarian panjang #halah. Beberapa jam setelah namanya jadi, ‘si gelombang cinta’ datang menghampiri. Oh rupanya si bayik ini  nungguin namanya jadi dulu yaaa!Hahaha.

H-2 Menuju Persalinan

‘Gelombang cinta’ itu membangunkan saya saat dini hari. Awalnya saya tuh sempet bingung, ini tuh mules mau pup apa mau lahiran ya? Asli, clueless banget tentang rasanya kontraksi alami tuh gimana, secara ya di kehamilan sebelumnya kan pakai induksi. FYI, gelombang cinta waktu induksi dan alami itu beda banget, lebih ‘nendang’ rasanya! #opoiki

Saya teringat instruksi Teh Okke untuk menghitung dan mencatat frekuensi kontraksi yang terjadi. Kalau sudah 10 menit sekali dan cukup intens baru datang ke Bumi Ambu. Selama 2 jam menghitung, gelombang cinta yang terjadi frekuensinya belum teratur, masih 10-15 menit sekali. Sungguhlah kehamilan kedua ini saya jadi kayak orang yang baru banget hamil. Nggak ngerti gimana caranya menyikapi si gelombang cinta yang datang pertama kali. Mau nunggu sampai frekuensinya teratur tapi kok ya penasaran, ini beneran nggak sih? Atau cuma Braxton-Hicks? Kalo nggak nunggu dan langsung ke Bumi Ambu lebay nggak ya? Nanya sama Mamah sih katanya nunggu aja, tapi pas nanya suami disuruh cek aja. Penasaran itu berat, jangan, aku aja nggak sanggup sob! #terDilan

Akhirnya sih saya menghubungi Teh Okke dan menceritakan yang saya alami. Teh Okke pun mempersilahkan untuk datang daripada saya penasaran. Sampai di Bumi Ambu, langsung diperiksa sama teteh-teteh cantik, Teh Hany dan Teh Rista. Nah, di Bumi Ambu ini, tenaga medisnya akan memberitahu dan meminta izin untuk melakukan tindakan medis (yang tidak darurat). Mereka akan menunggu sampai kita siap dan mau. Kalau di tempat lain, pasien siap nggak siap ya harus siap kan ya, hehe. Hasil pemeriksaan dalam pagi itu, sudah pembukaan 1, tapi posisi mulut rahim masih di bawah dan mucus plug juga masih banyak di sekitar mulut rahim. Sementara untuk bersalin, posisi mulut rahim harus sejajar dengan jalan lahir dan mucus plug luruh semua untuk membuka si jalan lahir. Semakin bertambahnya bukaan dan frekuensi kontraksi akan menyebabkan si mucus plug ini luruh dan mulut rahim akan berada di posisi tengah/sejajar jalan lahir *sebuah insight yang tak kudapatkan di kehamilan sebelumnya*

Pulang lah saya ke rumah dan beraktivitas seperti biasanya sampai malam harinya, kok saya ngerasa kontraksi sedikit lebih kuat daripada sebelumnya ya? Frekuensinya belum teratur sih. Hmm.. Dasar mamak kepoan, mampir lagi lah ke Bumi Ambu yang memang jaraknya tinggal ngesot aje dari rumah. Kali ini diperiksa oleh kakak cantik, Aka Dani. Hasilnya masih sama, pembukaan belum bertambah tapi memang sih kontraksi ada peningkatan walaupun sedikit.

Image result for relief gif
Si mamak kepo ini pun pulang dengan hati yang agak tenang.

H-1 Menuju Persalinan

Paginya saya bangun dengan perasaan bingung, kok semalem tidur nyenyak bener ya? Ini nggak ada gelombang cinta atau emang nggak kerasa sih gelombang cintanya? Jadi galau deh mamak.. Di saat kegalauan datang melanda dan kontraksi tak kunjung ada lagi jua, datanglah sebuah pesan WhatsApp dari Aka Dani. Aka Dani bertanya apa saya bisa tidur? Kapan saya ada jadwal periksa ke dokter lagi?  Pas bagian ditanya kontraksinya langsung deh tsurhat (anti curcol curcol club). Lalu Aka Dani menenangkan saya dengan bilang:

“Jangan bingung-bingung. Jangan terlalu dipikirkan, nanti cemas. Tidak baik untuk tanda-tanda persalinannya. Bismillah, sing lancar.”

Lalu saya bilang kalau saya maunya lahiran di Bumi Ambu aja, nggak mau di tempat lain. Aka Dani lagi-lagi menenangkan..

“Bismillah kita berjodoh ya”

Huwaaa.. terharu banget ada tenaga medis yang sebegitu pedulinya sampai kontak duluan untuk bertanya kondisi pasiennya gimana. :’)

Image result for touched gif
I’m so touched of how Bumi Ambu treated me.

***

Gelombang Cinta, Kau Ada Di Mana?

Emang Maria aja yang cintanya bisa hilang, kontraksi juga bisa hilang! #ape #ketauanangkatan #anaktelenovela

Menjelang siang hari malah nggak terasa lagi gelombang cintanya. Tapi sampai sore hari, nggak ada tuh gelombang cinta datang lagi. Mau galau lagi tapi kasian juga sama si bayik. Setelah sholat Maghrib, saya mengajak si bayik mengobrol.

“Kakang, masih betah emangnya di dalam perut? Nggak pengen keluar aja gituh kita ketemu? Buninya udah pengen ketemu nih. Kang, sehat-sehat ya di dalam, biar kita ketemunya di Bumi Ambu aja. Ketemunya hari ini aja yuk, Kang, Buni udah siap nih lahir batin. Ketemunya di Bumi Ambu tapi ya!Nih Babap juga udah datang dari Jakarta.”

Siapa yang sangka setelah ngobrol itu ternyata malamnya gelombang cinta langsung datang bertubi-tubi. Awalnya suami yang inisiatif ngitungin karena saya males-malesan ngitung, ceritanya sih nggak mau ngarep kalau ternyata frekuensinya belom teratur lagi. Eh, ndilalah frekuensinya kok teratur ya 7 menit sekali dan malah semakin kuat rasanya. Sempat bingung nunggu atau nggak, akhirnya saya menghubungi Teh Okke dan setelahnya bergegas ke sana bersama suami, anak dan mama.

Sesampainya di Bumi Ambu…

Saya langsung diperiksa oleh Teh Okke. Teh Okke memegangi perut saya dan menghitung frekuensi dan kekuatan si gelombang cinta. Selagi diperiksa, entah mengapa ya nggak bisa banget deh nahan kentut! Saya pun minta izin untuk kentut di depan Teh Okke yang ternyata wanginya semerbak benerrr!Saya nggak enak banget kan dan minta maaf sama Teh Okke, tapi Teh Okke malah bilang…

“Udah nggak apa-apa, lepasin aja. Jangan dilawan badannya mau apa. Ini bisa juga salah satu reaksi dari kontraksinya”

Di kehamilan sebelumnya yang mana cuma berduaan doang sama suami, insiden kentut-kentut kayak gini nggak kejadian. Kejadiannya malah pas ada orang lain. Malu banget, tapi ya sudah ku bisa apa 🙁

Setelah dilakukan pemeriksaan dalam, ternyata sudah pembukaan 4! Yeay, alhamdulillah. Teh Okke pun confirmed untuk check-in tapi permasalahannya adalah.. Kamar inap dan bersalin saat itu sedang penuh, yang tersisa adalah ruangan tempat saya diperiksa.

“Gimana teh, mau di rumah sakit aja Okke rujuk atau nggak apa-apa mau di sini? Di sini ada kasur nanti tinggal dipindahin” tanya Teh Okke memastikan.

“Nggak apa-apa teh, di sini aja! Aku nggak mau di rumah sakit!” jawab saya penuh keyakinan.

Ruang periksa pun disulap seketika jadi ruang bersalin sekaligus kamar inap untuk saya. Selagi menyiapkan semuanya, ada telepon masuk dari pasien yang juga ingin lahiran di Bumi Ambu dan sudah pembukaan 6!Terpaksa Teh Okke menolak dan merujuk pasien tersebut ke rumah sakit. Wah, untung keputusan saya dan suami tepat. Telat menelpon dan datang ke Bumi Ambu aja bisa-bisa saya yang dirujuk ke rumah sakit karena nggak kebagian tempat.

Dua Jam Menjelang Persalinan

Habis kentut-kentut, timbullah keinginan untuk pup yang juga tidak bisa dilawan. Di persalinan sebelumnya, saya nggak kuat untuk sekedar berjalan dan akhirnya malah pup di kasur. Tapi di persalinan kedua ini, entah dapat kekuatan dari mana, saya kuat untuk berjalan ke kamar mandi sendiri. Bahkan bolak-balik sampai 2 kali, sampai-sampai sepertinya isi perut dikuras habis!

Selesai pup saya pun disuruh memakai pembalut dan berganti kostum ‘perang’. Iya salah satu item di birth plan dari Bumi Ambu adalah menyiapkan baju yang akan dipakai melahirkan dan IMD. Jadi mesti baju yang nyaman, nursing friendly dan nggak usah bagus-bagus amat karena bakalan belepotan sama keringat, darah dan air ketuban.

Birth Plan Bumi Ambu - Bagian 1
Birth Plan Bumi Ambu – Bagian 1
Birth Plan Bumi Ambu - Bagian 2
Birth Plan Bumi Ambu – bagian 2

Teh Okke bertanya apakah saya sanggup untuk terus bergerak? Saya pun mengiyakan. Teh Okke membebaskan saya untuk terus bergerak. Saya memilih untuk tetap bergerak dengan cara melakukan pelvic rocking di gym ball. Sambil pelvic rocking, saya makan cemilan kesukaan yang sudah dibawa dari rumah, menyalakan playlist di Spotify dan punggung saya dipijati oleh Teh Okke. Ya Allah, nikmat banget! Bener-bener bisa mendistraksi saya dari si gelombang cinta yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Sambil memijati, Teh Okke pun kerap kali mengingatkan saya soal atur nafas, atur nafas dan atur nafas. It’s going well until something on the inside keep pushing me..

Saat Bersalin pun Tiba…

Saya mulai kewalahan mengatur nafas, sudah mulai muncul rasa ingin mengejan tapi saya masih bersikeras untuk tetap pelvic rocking. Sampai akhirnya, rasa ingin mengejan semakin kuat dan pinggang terasa panas dan mau copot. Saya pun bilang ke Teh Okke kalau saya ingin berbaring saja.

Saya dipapah Teh Okke dan suami ke kamar bersalin. Tanpa butuh waktu lama untuk mencari posisi wuenak, secara otomatis badan saya berbaring miring ke arah kiri. Saya mulai memeluk bantal sembari meluruskan kaki. Saat itu suami berada di belakang saya menjadi sandaran (literally) dan memijati saya sementara Teh Okke bersiap untuk melakukan pemeriksaan dalam.

Nafas saya mulai terengah-engah, tapi saya coba untuk tetap mengatur nafas sebagaimana mestinya walaupun tidak semudah sebelumnya. Dorongan untuk mengejan semakin sering datang, setiap dorongan itu datang saya pasti bersuara,”Teh, nih mau ngeden lagi nih, Teh. Duh, ngeden nih, Teh..”. Teh Okke merespon dengan lembut, “Iya sok nggak apa-apa, atur nafas aja ya. Yuk atur nafasnya yuk!”

Too focused on breathing, i couldn’t remember the details when Teh Hany and Teh Rista came. Teh Hany membawakan tas yang berisi perlengkapan untuk persalinan dan minta izin mengeluarkan beberapa barang di dalamnya. Lalu, saya merasa ada sesuatu dari bagian dalam jalan lahir yang pecah. POP! Air ketuban pun mengalir, reflek saya bertanya ke suami.

“Bening nggak?”

“Alhamdulillah bening!” jawab suami antusias.

Sungguhlah saya dan suami lega selega-leganya begitu tahu air ketubannya bening! Huhuhu trauma sama persalinan sebelumnya.

“Udah bukaan 10 nih, alhamdulillah! Dede ganteng, hayu atuh ketemu sama Bunda yuk” ujar Teh Okke.

Teh Rista lalu mengangkat dan memegangi kaki kanan saya. After that, i let my body do whatever it wants. Saya secara alami mengikuti kemauan tubuh saya, tanpa paksaan saya mengejan dengan sendirinya.

“Senyum dulu atuh, Teh” ujar Teh Okke.

Then I smiled.. Nggak nyangka bisa senyum-senyum di saat lagi mengejan. Hahaha. Waktu persalinan sebelumnya boro-boro bisa senyum yang ada sibuk nahan supaya nggak mengejan. 🙁

Walaupun sempat terlilit tali pusat, akhirnya keluarlah manusia yang paling kami tunggu selama 9 bulan lebih ini diiringi tangisan yang super nyaring. HUWAAA.. ini momen yang bikin kami juga super lega! Alhamdulillah..

Image result for moved gif
Akhirnya kami bisa juga mendengar tangisan bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. :’)

Akhirnya…

Bayi yang sedang menangis kencang itu disimpan di atas tubuh saya untuk melakukan IMD. Setelah IMD selama 2 jam, badan saya pun dilulur oleh Teh Hany. Nggak cuma dilulur tapi juga dimandikan!Biar istirahatnya enak katanya. Setelah IMD terus bayinya ngapain? Nah, si bayi ini akhirnya dipotong tali pusatnya setelah proses delayed umbilical cord clamping yang dilakukan pas IMD. Tadinya sih suami yang mau potong tali pusat, tapi beliau keburu tepar jadi digantiin deh sama Teh Rista.

Qodarullah bisa merasakan hal-hal yang nggak bisa dilakukan pada saat persalinan sebelumnya, seperti Inisiasi Menyusui Dini, delayed umbilical cord clamping, tidak episiotomi dan langsung rooming in dengan si bayi. Keinginan Mama saya untuk menyaksikan persalinan cucunya juga terkabul bahkan anak pertama (nggak sengaja) ikut menginap saat persalinan terjadi. Alhamdulillah.. 

Bumi Ambu memberikan sudut pandang yang berbeda tentang proses melahirkan kepada saya. Dengan bekal ilmu, latihan fisik yang konsisten, dan tentunya ikhtiar-ikhtiar tersebut nggak ada artinya tanpa dibarengi doa. Manusia berencana tapi Allah yang menentukan. Atas izinNya, bersalin di Bumi Ambu benar-benar menjadi pengalaman yang seru, menyenangkan dan nyaman seperti di rumah sendiri.

Terima kasih Teh Okke, Teh Hany, Teh Rista dan Aka Dani telah menjadi perpanjangan tangan Allah dalam persalinan kedua ini. Atas pendampingan, dukungan dan bantuannya yang luar biasa bagi kami, semoga Allah melimpahkan berkah dan kebahagiaan untuk kalian. Aamiin.

***

Karena banyak yang nanya soal pricelist Bumi Ambu, saya post sekalian di sini ya, pricelist ini per bulan Maret 2018. Untuk info lebih lanjut dan update pricelistnya bisa langsung hubungi Bumi Ambu ya!

Price List / Biaya Melahirkan / Biaya Persalinan di Bumi Ambu
Price List / Biaya Melahirkan / Biaya Persalinan di Bumi Ambu

 

Ada yang alumni Bumi Ambu juga? Share pengalamannya dong di kolom komentar! ^^

Comments

  1. Bundo

    Ini yaaaa… NGIRI BANGEEET sama proses persalinannya huhuuuu…
    Menyenangkan banget, kayak pas aku mau lahiran Sabriyya. Mules2 tapi masih bisa senyum masih bisa bercanda. Proses pas Umar penuh drama penuh air mata HIKS.. kayaknya aku perlu share juga ya di blog, buat jadi pembelajaran ibu2 yang lain.

    Selamat ya Buni,
    Akuh sabar menunggu bisa kopdar sama si dedek akang :))

    1. diniisme Post
      Author
      diniisme

      Kebalik kalo gitu kita Bundoooo.. aku pas lahiran Tanya kan penuh drama dan air mata. Masuk NICU pulak kan anaknya huhuhuhu.
      Iya doooong share di blog, ditunggu yaa postingannya.
      Hahahahahha makasi Bundooo, ayoklah, udah di Jakarta dalam waktu yang lama nih, cusss ketemuan kita :*

    1. diniisme Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *