‘Shopping’ Dokter Kandungan/Obgyn di Jakarta dan Bandung – Last Part

Aloha~

*nongol dari balik tumpukan kerjaan*

*halah*

Setelah cukup lama ((( hiatus ))) menulis blog, kali ini saya bertekad menyelesaikan postingan mengenai Shopping Dokter Kandungan/Obgyn di Jakarta dan Bandung bagian terakhir, kecuali jika nanti saya hamil lagi yang waktunya belum tahu kapan dan sedang tidak merencanakan dalam waktu dekat karena biaya sekolah di Jaksel mahal. Ehe ehe. :p

Kehamilan Kedua

Saya dan suami memang berencana untuk memiliki anak lagi di tahun 2018, tapi di pertengahan 2017, Allah mengamanahkan kami lebih cepat dari rencana kami sebelumnya. Ya, pepatah manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan itu benar adanya. Awalnya saya mengira gampang kenyang, perut kembung dan agak perih kalau makan banyak itu adalah gejala sakit maag. Ternyata, setelah iseng menggunakan testpack terakhir, hasilnya POSITIF! KAGET JUGA CUYY! Campur senang dan deg-degan kek baru hamil pertama kali.

Kehamilan kedua
Hanya ilustrasi. Bukan perut gue.

Pencarian Dimulai (Lagi)

Sehari setelah testpack positif, saya langsung cari jadwal di RSB Asih, tempat persalinan dan periksa kehamilan sebelumnya. Pada saat itu, Dokter Musa ((( langganan saya ))) sedang cuti, saya nggak sabaran pengen memastikan hasil testpack jadi saya pilih menemui dokter lain. Dokter lain yang saya temui tak lain dan tak bukan adalah kandidat yang masuk ke dalam daftar pencarian saya di kehamilan sebelumnya yaitu Dokter Bintari, SpOG.

Menunggu hampir sejam, akhirnya tiba giliran saya masuk. Wow, pasien pertama! Dokter Bintari menyapa saya dengan lembut dan wajah yang dihiasi senyum tipis, bukan dihiasi kumis tipis seperti Iis Dahlia. Dokter memberikan serangkaian pertanyaan, melakukan USG, dan ketika dokter memberikan kesempatan untuk bertanya, saya bercerita tentang persalinan dan kehamilan sebelumnya. Habis itu keluar deh dengan perasaan menggantung (?), atau chemistrynya nggak dapet ya? Overall, dokternya sih baik, tapi memang nggak banyak ngomong, nanya dan memberikan informasi. Mungkin karena beliau tahu ini kehamilan kedua, so harusnya sih no worries buat saya. Mungkin. Yang bikin kami akhirnya say goodbye to RSB Asih karena biaya kontrol yang naik 2 kali lipat sisss! Nggak bisa jajan skinker 10 steps ala Kroya dong mamak.

Sini tak ciyom.

Pencarian Selanjutnya

Tujuan kami selanjutnya adalah Kemang Medical Care (KMC), rumah sakit Ibu Anak yang jaraknya selemparan kolor dari rumah. Auk kolor siape. Di KMC ini banyak banget dokter yang recommended, apalagi banyak artis lahiran di situ, dari mulai Raisa, Anissa Azizah, Ririn Dwi Arianti, dan lainnya. Duh, buk, situ Lambe Turah, apal bener?

Saya memutuskan untuk konsul ke Dokter Diah Sartika Sari, SpOG. Udah penasaran banget sama ini dokter dari pas hamil anak pertama. Suasana KMC nggak sehomey RSB Asih sih tapi tetap oke kok, ada playground jadi anak nggak bosen nungguin mamaknya konsul. Tapi ternyata, menunggu Dokter Diah itu seperti menunggu lampu merah di perempatan Samsat-Carefour Bandung, alias LAMA BANGET MARISOL! Anak Bandung pasti paham maksud saya dan anak 90an pasti tahu Marisol itu siapa. Iya nggak ada hubungannya memang.

Dokter Diah Sartika Sari, SpOG
Dokter Diah Sartika Sari, SpOG, Bukan Marisol. (credit photo: kemangmedicalcare.com)

Penantian itu terbayar lunas saat bertemu dengan Dokter Diah karena beliau sangat informatif, sangat detail saat melakukan USG dan banyak nanya. Demen banget gue dikepoin soal kehamilan ini. Hahaha. Dokter Diah menenangkan saya, menyarankan untuk menjaga asupan agar tidak kelebihan berat badan dan memberikan rujukan untuk tes lab. Puas banget rasanya setelah konsul dengan beliau. Tapi, umur tidak berbohong Esmeralda, menunggu antrian yang lama sambil bawa anak itu sungguh melelahkan, walaupun yang nemenin lari-larian dan kesana kemari adalah bapaknya. Ditambah dengan biaya konsul yang hampir sama dengan RSB Asih dan pertimbangan untuk melahirkan di Bandung, membuat saya harus say goodbye sama rumah sakit artis ini.

Pencarian Yang Tidak Disengaja

Seperti headlinenya, awalnya saya hanya mencari dokter yang jadwalnya sama dengan dokter anak yang akan kami kunjungi di RS Hermina Jatinegara. Rumah sakit yang ini jaraknya tidak selemparan kolor dari rumah saya. Btw, masih belum terungkap, kolor siapa yang jadi patokan ngukur jaraknya.

Oke, ada banyak nama di hari itu, baik di Poli Eksekutif maupun Poli Biasa. Saya memutuskan untuk ke Poli Biasa saja karena kalau hasil browsing sih bedanya cuma dapet snack dan minuman gratis serta ruang tunggu yang lebih nyaman tapi beda harga konsulnya bisa 2 kali lipat.

Pilihan mengerucut ke daftar dokter yang praktek di Poli Biasa. Saya cek namanya satu-satu melalui mesin pencarian Google. Ada yang nggak ada ulasannya sama sekali, ada yang banyak ulasan positif tapi ulasan negatif juga ada beberapa, dan terakhir, ulasannya positif tapi cuma dua orang. Pilihan saya jatuh ke yang terakhir, beliau adalah Dokter Westrian Ronald Simorangkir, SpOG. Oh iya, kenapa nggak ke dokter perempuan? Karena dokter perempuan jadwalnya pagi, sementara jadwal dokter anak yang akan dikunjungi itu sore. Bolak-balik jelas nggak mungkin, nggak efektif secara biaya dan kalau menunggu di sana, jelas nggak efisien secara waktu. Jadwal dokter pada sore hari hanya ada dokter laki-laki. Jadi ya udah lah ya, toh suami pun ikut mendampingi dan bakalan diperiksanya di perut, bukan transvaginal.

Dokter Westrian Ronald Simorangkir
Dokter Westrian Ronald Simorangkir (credit photo: database.idionline.org)

Harusnya sih saya bisa konsul dulu sama dokter kandungan sebelum ke dokter anak tapi karena Dokter Westrian ada tindakan jadi keadaan berbalik. Kami ke dokter anak dulu dan setelahnya menunggu Dokter Westrian selesai tindakan. Cukup lama menunggu, untungnya bisa gojekin Martabak Favorite my love, jadi nggak senep-senep amat secara suasananya rumah sakit sekaleeee.

Nggak banyak pasien yang menunggu Dokter Westrian, mungkin Cuma 5 orang saat itu, saya giliran pertama. Tiba giliran saya masuk, disambut dengan sangat ramah oleh Dokter Westrian yang mukanya dan logatnya nggak kelihatan Bataknya. Maaf bukan bermaksud rasis, Cuma pernah aja pacaran sama orang Batak, jadi lumayan tahu typical orang Batak.

Dokter Westrian ini sama kayak Dokter Diah, sangat informative, sangat detail ketika melakukan USG bahkan sampai nungguin posisi janin berubah supaya bisa mastiin jenis kelaminnya. Ditambah lagi, beliau banyak nanya tentang kehamilan sebelumnya dan menenangkan banget kata-katanya. Dokter yang underrated di mesin pencarian tapi ternyata di luar ekspektasi saya dalam artian yang positif. So, semoga yang saya tulis ini bisa menaikkan namanya di mesin pencarian ya.

Nggak pernah terpikir sama sekali untuk kami periksa kehamilan di RS Hermina Jatinegara. Tapi, biaya konsul ditambah biaya transport ke sana masih lebih rendah dibandingkan biaya konsul di rumah sakit yang saya datangi sebelumnya, sampai saya rela jauh-jauh ke sana. Lumayan banget, selisih hampir setengahnya itu buat nambahin tabungan bersalin di Bandung. Later I know, pasien yang datang ke beliau juga sedikit. Kayaknya tiap lagi konsul, paling banyak 5-6 orang yang menunggu antrian. Jadi nggak diburu-buru gitu periksanya. Dulu pernah digituin soalnya sama dokter yang antriannya banyak. Ehe ehe.

Pencarianku Usai Sudah.. #yousingyoulose

Sedih juga berpisah dengan Dokter Westrian, tapi tekad saya sudah bulat untuk lahiran di Bandung. Maka selanjutnya menentukan dokter kandungan di rumah sakit di Bandung. Pilihan saya jatuh ke RS Humana Prima yang dekat dari rumah (kali ini nggak pakai lempar-lemparan kolor buat ngukur jaraknya), bisa BPJS dan biayanya terjangkau. Di RS Humana Prima hanya ada 3 dokter kandungan, 2 orang dokter perempuan dan 1 orang dokter laki-laki.

Di kehamilan kedua ini saya ingin bersalin dengan dokter perempuan. Setelah melakukan pencarian ulasan, sama seperti pertimbangan sebelumnya memilih Dokter Westrian, kali itu pun saya memilih Dokter Annisa, SpOG yang ulasannya sedikit tapi positif semua. Hahaha. Tapi memang tidak mengecewakan kok. Dokternya terlihat kalem dan pendiam padahal informatif banget, detail saat melakukan USG, ya pokoknya kriteria yang saya mau itu ada juga di beliau. Minusnya adalah antrian yang cukup banyak, ruang tunggu antara pasien poli umum bercampur dengan poli kandungan, dan sayangnya ruang tunggu campuran ini juga kecil banget. Jadi siap-siap pakai masker ya kalau periksa ke sana.

Dokter Annisa, SpOG
Dokter Annisa, SpOG (credit photo: https://twitter.com/anyes82)

Pada akhirnya, saya memang tidak jadi melahirkan dengan bantuan dokter Annisa. Sudah diceritakan alasannya di postingan ini dan ini. Tapi selama proses menuju persalinan yang bahagia dan gentle itu, saya bertemu banyak dokter yang sangat suportif dan membantu saya yang saat itu baperan dan gampang cranky ini untuk tetap berpikiran positif terhadap janin dan terhadap diri saya sendiri.

Teman-teman, ada yang pernah konsul dengan dokter-dokter kandungan yang saya sebutkan di atas? Silahkan berbagi pengalaman dan berceloteh di sini ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.