Happy Father’s Day, Pa.

Lelaki di depanku mengangguk-angguk, sesekali menyesap rokok yang ia pegang dengan tangan kanannya. Sebuah tanda bahwa baginya pembicaraan ini sangat serius. Sementara itu, lelaki di sebelahku menatap, harap-harap cemas. Bulir-bulir keringat mengalir deras, membasahi wajahnya, padahal sedari tadi ia hanya duduk saja. Sebuah tanda bahwa ia sedang gugup. Aku memperhatikan keduanya, lelaki yang sama-sama kusayangi.

Lelaki di depanku tahu bahwa hari ini akan datang, perlahan tapi pasti. Begitupun dengan lelaki di sebelahku yang sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari, untuk hari ini.

“Ya, kalau Bapa sih gimana Dini aja. Bapa pribadi senang dengan keseriusan Kiki, kalau memang kalian sudah siap ya silakan dilanjutkan. Kalau Bapa sih nggak mau nyuruh cepat-cepat atau menentukan kapan harus nikah, ya sesiapnya kalian aja. Makanya Bapa mah udah wanti-wanti sama Ibu dulu, jangan pernah nanya sama anak-anak “Kapan nikah?”. Supaya anak-anak nggak kepikiran, apalagi Dini jauh dari Bapa dan Ibu, kita di sini nggak tahu kan dia di sana lagi gimana. Apa lagi senang, apa lagi sedih. Ada masalah atau nggak. Dini kan anaknya gitu dari dulu apa-apa sendiri, kita tahunya ya dia nggak apa-apa, nggak ada masalah gitu. Nanti kalau ditanya begitu malah jadi beban kan kasihan.”

That’s my friend, the most #DHEG moment in my life. Nggak nyangka kalau orang yang paling sering kuajak debat dan berantem justru jadi yang paling thoughtful. Auto ngembeng. SIAPA YANG NARO IRISAN BAWANG DI SINI WEYYYY!

Kejadian ini beberapa tahun lalu, saat Rizki meminta izin untuk menikahi aku tapi apa yang dikatakan Bapa saat itu masih terngiang dengan sangat jelas. Aku berpikir untuk melakukan hal yang sama ke anak-anakku kelak.

Happy Father’s Day, Bapa. Maafkan anakmu ini yang masih sering keras kepala.

Leave a Reply

Your email address will not be published.